Aktivis Milenial Indonesia Tolak Hoaks dan Politik SARA

man-headphones
Unjuk Rasa HAM Indonesia Tolak HOAX (Ist)

Zoonanews– HIMPUNAN Aktivis Milenial (HAM) Indonesia menggelar aksi damai menolak hoaks dan politik SARA. Aksi ini untuk mendorong generasi milenial agar tidak golput dalam pesta demokrasi atau pemilu 2019. Mereka harus menentukan pilihan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial (HAM) Indonesia, Asip Irama mengatakan, kompetisi politik elektoral 2019 diprediksi akan didominasi oleh generasi milenial. Proporsi mereka cukup besar, setidaknya ada 34,2% pemilih berusia 17-35 tahun.

Ini artinya pemilih milenial akan menentukan arah kontestasi elektoral 2019. Mulai dari arah dukungan, kondisi politik, hingga iklim kehidupan sosial masyarakat.

"Salah satu tipikal generasi milenial ialah digital native. Hidup mereka banyak dihabiskan di dunia maya. Besarnya proporsi generasi milenial ini menjadikannya tidak hanya strategis secara kuantitas, tetapi sangat potensial dijadikan sebagai mesin politik untuk memobilisasi isu yang berkembang di media sosial," kata Asip Irama, Minggu (10/2/2019).

Asip mengatakan bahwa tantangan yang sedang dihadapi generasi milenial saat ini ialah memberikan signifikansi dalam kontestasi elektoral 2019. Mereka menjadi salah satu penentu arah politik Indonesia di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, kata dia, sikap generasi milenial akan memberikan implikasi penting terhadap masa depan bangsa ini.

"Menjelang kontestasi elektoral 2019, kampanye hitam berupa fitnah, propaganda, dan agitasi menjadi ancaman yang menakutkan dalam sistem demokrasi kita. Alih-alih melahirkan pemimpin ideal, ia justru akan merapuhkan sendi-sendi demokrasi. Kompetisi politik menjadi banal karena dihuni oleh para pecundang yang tidak siap menerima kekalahan," ujar Asip.

Asip mengatakan, bahwa Insinuasi pada salah satu kandidat sering dilakukan. Salah satu contohnya ialah tuduhan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sering disematkan pada calon tertentu. Padahal, tidak mempunyai data dan fakta yang kuat. Bahkan, lanjutnya, bisa dikatakan bahwa tindakan semacam itu adalah upaya mengkritalisasi hoaks dalam tindakan praktis.

Lebih jauh ia menjelaskan, menjelang pemilu, hoaks terus diproduksi di media sosial. Tujuannya adalah menggerus elektabilitas kandidat. Sebagai digital native, generasi milenial akan terus dihadapkan dengan hoax, agitas dan propaganda yang betebaran di media sosial.

Karena itu, setiap informasi yang diterima perlu diverifikasi terlebih dahulu keberannya agar mereka tidak terseret dan termakan oleh hoax di media sosial. Selain hoax, problem yang menghantui kotestasi elektoral 2019 ialah penggunaan politik identitas atau SARA.

"Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah gambaran bagi kita batapa politik identitas begitu menguras energi dan dapat menciptakan polrasiasi di tengah masyarakat. Kehidupan sosial menjadi tidak kondusif dan hormonis karena politisasi agama," tukasnya.

Asip mengharapkan bahwa generasi milenial mempunyai kepekaan dalam mendetaksi penggunaan agama sebagai kendaraan politik. Agar nilai-nilai agama dapat menebarkan kesejukan bagi masyarakat, bukan justru sebaliknya.

"Generasi milenial harus memberikan konstribusi positif, mengautkan tekat dan bersama-sama memerangi berita bohong atau hoaks, mendorong kompitisi pemilu 2019 yang sportif dan menolak politik SARA," tandas Asip.


Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/zoog5423/public_html/detail.php on line 270

Terpopuler

To Top